Pages

Tuesday, June 6, 2017

Jika (Lahan) Rumah Menghadap Barat



Ceritanya lagi naksir sebidang tanah kavling nggak jauh dari rumah. Sebetulnya lokasi oke.. Terletak di dalam kompleks perumahan yang sudah ‘jadi’ (fasum dan fasos sudah ada, sudah ramai penghuni juga) dan aman (ada satpamnya). Luasan sesuai kebutuhan dan harga sesuai budget. Malahan agak di bawah pasaran karena pemiliknya sedang BU. Iklannya pun dari tangan pertama alias langsung pemiliknya, yang ternyata istrinya adalah teman dari istri teman sekantor saya (hihi, mbulet ya). Jadi insyaAllah aman lah.

Sayang sekali.. kavlingnya menghadap barat. 

ini dia kavlingnya
Iya, memang jadi ganjalan soal arah menghadap kavling yang kebetulan kok ya ke barat. Bayangan saya kalo rumah hadap barat tuh kurang menguntungkan. Tidak kena sinar matahari pagi, dan hanya dapat sinar matahari siang-sore yang lebih menyengat. Agak kurang nyaman sepertinya.

(Catatan: rumah saya yang sekarang menghadap selatan. Tidak terpapar matahari langsung, tapi dari pagi-sore tetap dapat matahari dari arah samping).

Jadilah saya browsing-browsing soal rumah menghadap barat. Lumayan banyak juga artikel yang menyebutkan kekurangan rumah menghadap barat. Problem utamanya ya karena kebagian sinar matahari dari siang-sore yang relatif lebih panas. Dan panasnya ini tidak langsung lenyap begitu saja di malam hari, karena akan ‘tersimpan’ selama 6-8 jam kemudian di dinding dan langit-langit rumah. Waduh..

Galau deh.. haha. Padahal jarang-jarang di Tembalang dapat kavling ‘jadi’ dengan harga segitu.

Sebetulnya bukannya nggak tahu jika problem panas matahari siang-sore itu bisa diatasi, atau paling tidak diminimalisir. Ada sih, beberapa teori yang sudah kebayang. Seperti menanam pohon/tanaman rambat di depan rumah, pasang penghalang semacam tirai bambu di teras atau depan pintu dan jendela, pasang kanopi sekalian untuk carport, trus juga kamar/tempat istirahat jangan ditaruh di bagian depan.

Dari browsing tadi dapat beberapa info tambahan untuk mensiasati rumah yang menghadap barat agar tidak terlalu panas. Ini dia beberapa di antaranya:

  • Meminimalkan bukaan pada fasad rumah
  • Membuat semacam secondary skin di fasad rumah untuk ‘menyaring’ sinar matahari (menambah dinding plesteran, kisi-kisi, atau tanaman rambat)
  • Menggunakan warna cat yang terang dan hindari wara gelap yang lebih menyerap panas
  • Mengubah fungsi ruang dan memainkan lay-out (bagian barat dialokasikan untuk ruang yang tidak dipakai lama dan untuk service area)
  • Membangun teras penetralisir udara (diisi dengan tanaman-tanaman hias berdaun rimbun)
  • Menggunakan kaca film pada jendela

Hmm.. lumayan lah, bikin galau agak berkurang, hehe. Tapi masih penasaran, gimana sih rasanya tinggal di rumah yang menghadap barat. Beneran panas dan nggak nyaman? Bagaimana mensiasatinya? Rasanya lebih afdol mendengar langsung dari yang sudah merasakan sendiri, daripada sekedar teori.

Saya pun melempar pertanyaan ke beberapa WA grup yang isinya teman-teman kuliah.

Dan.. ternyata komennya kok bikin tambah galau yaa.. haha. Lebih banyak cons daripada pros. Rata-rata berpendapat ‘negatif’ dan menyarankan kalau bisa jangan ambil rumah menghadap barat, heuheu. Seperti 2 komen di bawah ini, misalnya:

“Kalo boci bangun-bangun kemringeeett.”

“Walaupun ada pohon tetap panas Fi, wong matahari terbenam ke arah kita.”

Nah loo.. galau lagi kan, wkwkwk.

Untungnya ada beberapa komen dan sharing dari pemilik rumah hadap barat yang lumayan ‘adem’ dan menambah referensi tips n trick mensiasatinya. Ini dia: 

“Depan rumah tanami pohon dan taruh gentong air. Pakai siri-sirip penghalang. Lantai atas dibuat model jembatan antar kamar /ada void.” (Pak Tung)
halaman rumah Pak Tung. gentongnya keliatan nggak? :D
“Mengganti posisi fasad ke utara, dan menempatkan area ‘dingin’ seperti kamar mandi dan laundry di sisi barat.” (Deary)

“Lantai barat untuk service area dengan bukaan selebar mungkin. Lantai atas kamar tidur, dinding yang madep barat luar dibuat pasangan satu bata atau tebal 30cm. Bukaan selebar mungkin di dinding yang lain. Jangan lupa pakai pohon peneduh.” (Mas Deva)

“Nanam pohon peneduh yang daunnya menjuntai sampai bawah.” (Pak Tahyanto)

“(Di kamar) nggak ada jendela di sisi barat, jendela ditempatkan di sisi utara.” (Jeng Nurul Awuy)

“Main di barrier, dengan pohon/tanaman rambat, atau roster. Canopy pakai  pergola yang di atasnya tanaman rambat -- jangan pakai polycarbonate or galvalum. Main cross ventilation. Sirkulasi ruangan yang bagus, biar nggak sumuk.” (Oom Adit)

ilustrasi sirkulasi udara ala Oom Adit

“Pasang tirai eksterior. Plafon dibuat tinggi.” (Jeng Edi Yuni)

“Pasang tirai bambu / kerai.” (Mas Hiddan) 

“Harus ada pohon depan rumah dan di belakang ada ruang terbuka.” (Kang Bibin)

tampak depan rumah Kang Bibin

“Tanam pohon ketapang kencana. Kalo udah besar rantingnya melebar, bikin teduh.” (Kang Acep)

rumah Kang Acep dengan pohon ketapang kencananya
“Siasati tata ruang: Ruang tidur, ruang keluarga, ruang kumpul-kumpul, taruh di bagian timur / belakang rumah; Bukaan-bukaan besar taruh di belakang dan hadap timur; Halaman yang (lebih) luas taruh di belakang.” (Juragan Febry)

bukaan lebar di bagian belakang (salah satu) rumah Juragan Febry

Baidewei, di saat browsing saya juga nemu artikel yang menyampaikan bahwa sebaiknya rumah seorang muslim diposisikan menghadap kiblat (arah ‘barat’ kalau di Indonesia). Wallahu alam..

Apapun itu, mengutip ‘petuah’ Juragan Febry -- yang kadang-kadang berubah wujud sebagai Ustadz: “Allah menciptakan  arah timur, selatan, barat, utara. Semua baik."

Hmm.. baiklah.. sepertinya saya masih harus melanjutkan solat istiharoh, biar benar-benar mantap dan nggak galau :D



Referensi:

Thursday, December 15, 2016

Sebuah Email di Sore Itu



Dua hari lalu menjelang magrib. Saya tiba di rumah dengan kuyup karena hujan. Dingin, tentu saja. Plus agak bete karena sudah beberapa hari pulang kantor selalu basah kehujanan (ngaku :D).

Tapi notifikasi email yang masuk di gadget sesaat kemudian, seketika mengubah suasana hati. Ini copy-paste isi emailnya: 

Assalamualikum salam kenal kakak .. aku kenal kakak dari buku jilbab traveler. Kakak mau kah kakak berbagi cerita tentang luar negeri?  aku dari indonesia loh kak.. pengen kuliah di luar negeri. Sekedar berkenalan boleh kan?? :-)

Ternyata masih ada yang baca – dan suka – tulisan saya. Dan ternyata saya sudah lama absen menulis, hiks.

Buku The Jilbab Traveler yang disebut di email itu adalah sebuah antologi yang dieditori oleh Mbak Asma Nadia. Kumpulan tulisan yang berkisah tentang perjalanan melanglang buana dan pengalaman tinggal di berbagai belahan bumi para kontributornya. Ini sebenarnya adalah buku lama, kalau tidak salah terbit tahun 2012.


Buku 'The Jilbab Traveler'

Jadi ceritanya dulu Mbak Asma Nadia pernah mengadakan audisi naskah untuk antologi The Jilbab Traveler. Alhamdulillah dan surprised juga ketika mendapat kabar bahwa naskah yang saya kirimkan lolos. Di buku tersebut tulisan saya berkisah tentang pengalaman selama backpacking ke Italia (Milan, Cinque Terre, Pisa, Venice).   

Masa-masa itu saya masih lumayan produktif menulis. Pengalaman jalan-jalan di Italia sempat juga saya tulis dan kirimkan ke majalah Kereta Api. Kali ini tulisan seputar kereta dan stasiun di sana. Rasanya senang ketika dikabari seorang kawan yang kebetulan 'menemukan' majalahnya dan membaca tulisan itu ketika sedang naik kereta.

Kembali ke email tadi. Saya jadi seperti diingatkan untuk menulis lagi. Dan.. traveling lagi, sepertinya ^_^

Sunday, October 23, 2016

Ikan Patin Bumbu Kuning



Ceritanya lagi insyaf pengen masak yang agak ‘serius’.. ikan kuah, biar anak-anak agak istirahat dari makan lauk praktis yang digoreng-goreng akibat kemalasan emaknya :D. Kebetulan hari Sabtu kemarin pas pulang belanja sayur kok ya lewat penjual ikan. Dari sekian pilihan yang ada -- udang, cumi, tuna gede, bandeng, patin -– akhirnya milih ikan patin. Seekor sedang harganya 10 ribu.

Sebetulnya paling malas masak ikan. Nggak tahan bau amis dan agak ‘gilo’ alias jijik sama ikan mentah, apalagi isi perutnya. Kemarin sama si bapak tukang ikan sih sudah dibersihin isi perutnya, tapi masih ada sisa-sisanya dikit. Sampe rumah langsung dibersihin lagi, cuci bersih dan masukin kulkas. Eksekusi baru besoknya, hari Minggu. Walaupun browsing resep dan beli ikan plus pernak-perniknya udah dari Sabtu, hehe.

Resep ngambil dari cookpad ini:

Bahan-bahan:
-     1 ekor sedang ikan patin
-     6 siung bawang merah
-     3 siung bawang putih
-     1 ujung jari laos
-     2 batang serai
-     3 biji kemiri
-     secukupnya kunyit
-     4 lembar daun jeruk
-     sesuai selera belimbing wuluh
-     2 biji cabe hijau
-     2 atau 3 biji cabe merah besar
-     secukupnya terasi
-     setengah biji jeruk nipis
-     3 sendok makan minyak goreng
-     secukupnya garam
-     secukupnya penyedap

Cara memasak:
-     Bersihkan ikan, potong-potong dan beri perasan jeruk nipis lalu sisihkan.
-   Ulek semua bumbu kecuali cabe merah dan hijau,daun jeruk,terasi juga belimbing wuluh, bahan yang nggak diulek cukup diiris-iris aja yaa..
-   Panaskan minyak dan masukkan bumbu yang sudah halus, tumis sampai harum lalu tambahkan sedikit air, masukkan ikan patin lalu tambahkan lagi air sampai ikan terendam.
-    Setelah mendidih masukkan cabe merah dan hijau,terasi, belimbing wuluh yang sudah diiris-iris.. beri juga garam dan penyedap sesuai selera bisa juga diberi sedikit gula ya sista :)
-     Diamkan sampai ikan kembali mendidih dan benar masak, kira-kira sampai air berkurang di wajan yaa.. setelah itu baru deh siap santap.

Itu tadi resep aslinya. Berhubung nggak punya belimbing wuluh, saya ganti dengan tomat. Trus nggak pake cabe juga, soalnya Hilmy nggak doyan pedes. Dan nggak pake penyedap / MSG. Ohya, saya tambah jahe dikit, buat ngurangin lagi bau amis ikan (walaupun udah pake kunyit dan jeruk plus daunnya).
 
lagi tumben kerajinan nguprek ikan dan ngulek bumbu :D

Alhamdulillah hasilnya memuaskan (muji diri sendiri, hihi), anak-anak pada suka dan lahap makannya. Sarapan dan makan siang pake lauk yang sama pun nggak ada yang protes, hihi.

taraaa.. bisa juga masak serius ^_^

“Kapan-kapan masak ini lagi ya Bun!” seru Nadaa.

Siyaaapp.. ^_^