Pages

Tuesday, November 28, 2017

Perjalanan Sendiri

sendiri di perjalanan
tak selalu tak menyenangkan
bepergian sendirian
tak harus menjadi kesepian


sendiri, kadang berarti
memberi ruang bagi hati
merenung berkontemplasi
arti perjalanan hidup yang dilewati


sendiri, memberi kesempatan
mensyukuri banyak keindahan
yang mungkin terlewatkan
saat riuh di keramaian


sendiri, membuat bebas
menentukan ritme yang dirasa pas
sendiri, membuat terlatih
melangkah tegak meski tertatih


sendiri, membuat mau tak mau
mengandalkan diri sendiri dan tak ragu
ada Allah yang akan selalu
menjadi tempat bergantungmu


sendiri, memberi jeda
saat diri terlalu lama
disibukkan urusan dunia
hingga akhirat kerap terlupa


sendiri, semoga mengingatkan
dari keriuhan yang melenakan
sendiri, memberi pelajaran
bersiap melanjutkan perjalanan..


*semarang, 26 nov 2017


dari balik jendela kereta kamandaka
somewhere between purwokerto-semarang


Tentang Sahabat

sahabat adalah..

dia yang kamu percaya
untuk berbagi cerita
tentang semua
apa adanya


mungkin hanya cerita keseharian
remeh-temeh tak penting yang menggelikan
tentang cita-cita, mimpi dan khayalan
atau masa lalu yang tak terlupakan


kepada sahabat tak pernah ragu
cerita tentang 'aib dan dosa' yang bikin malu
rahasia yang kita tau-sama-tau
lalu tawa dan tangis campur aduk jadi satu


sahabat tak pernah menghakimi
sahabat saling mengingatkan untuk kembali
mendekat kepada sang illahi
menengok ke dalam diri, mendengar suara hati


- semarang, 18 nov 2017 -

w/ arini @greenhost yogyakarta, 16 nov 2017
 

Thursday, October 5, 2017

Tentang Sebuah Rasa



“Berjanjilah untukku, Ra.”

“Apa?”

“Please promise me, always be strong..”

Pagi yang gerimis di Rotterdam Centraal. Ra menunduk. Jemarinya yang terbungkus sarung tangan ungu tua masih menggenggam erat pegangan koper. Pandangannya terpaku pada sepatu boots Aryo, yang hanya seinci dari roda kopernya.

Masih ada waktu 10 menit sebelum kereta menuju Schiphol datang.

***

Seminggu yang lalu.

Tak pernah disangka Ra, dia akan bertemu lagi dengan Aryo setelah sekian lama. Bertahun-tahun berpisah tanpa kabar, dan kini mereka bertemu lagi di acara Cultural Night di Delft.

Aryo. Lelaki itu tak jauh berubah semenjak enam tahun lalu. Semenjak Ra kehilangan jejaknya, setelah Ra memutuskan untuk menerima pinangan Harris. 

Mungkinkah Aryo sakit hati? Tapi mengapa harus sakit hati, sedangkan di antara mereka tak pernah ada kejelasan status. Kekasih bukan, apalagi tunangan. 

Mereka ‘hanya’ berteman baik. Aryo selalu ada ketika Ra membutuhkan. Namun sebagai perempuan, Ra juga butuh kepastian. Dan Ra mendapatkannya dari Harris.

“Apa kabarmu?” tanya Aryo, ketika mereka akhirnya duduk semeja. Memisahkan diri dari keramaian.

“Yaah, seperti yang kau lihat. Bagaimana? Kelihatan sehat kan?” Ra mengangkat kedua alis, sambil tersenyum. Berusaha terlihat ceria.

Lalu obrolan pun mengalir begitu saja. Aryo masih sehebat dulu. Karirnya melesat, menerbangkannya dari satu negara ke negara lainnya. Hingga takdir mempertemukan mereka di acara Cultural Night malam itu di Delft. 

Baru sebulan terakhir Aryo memulai karirnya sebagai peneliti di kampus setempat. Sementara Ra justru akan kembali ke Indonesia setelah dua bulan mengikuti shortcourse di Erasmus University.

Aryo tak menyinggung-nyinggung soal keluarga. Kebetulan, karena Ra juga tak ingin membahas soal satu ini.

Ketika Ra harus pamit kembali ke Rotterdam malam itu, Aryo menggumam pelan, “Aku tahu bagaimana Harris memperlakukanmu.” 

Membuat Ra tertegun sesaat, sebelum akhirnya bergegas mengejar rombongan teman-temannya.

Ah, Harris. Ra masih bisa mengingat rasa nyeri itu. Bahkan lebam di pinggang kirinya masih membekas hingga kini. Tapi semua luka di badan sungguh tak seberapa dibandingkan lara yang tertoreh hati: Harris dan wanita-wanitanya.

 “Bagaimana Aryo bisa tau Rin? Kamu yang cerita?” jemari Ra lincah mengetik di atas kibor laptop sesampainya kembali di apartemen.

Kotak dialog di depannya langsung berhias emoticon nyengir. Khas Airin, sahabat karibnya sejak SMP.

“Aaah, jadi akhirnya kalian ketemu juga di Belanda?” balas Airin.

“Memangnya kenapa kalo ketemu? Lagian seminggu lagi aku sudah harus balik ke Indo.”

“Dia masih sendiri Ra. Ayolah Ra, sampai kapan kamu bertahan?”

Kalimat terakhir Airin membuat Ra termangu. Sahabatnya tak pernah tahu, masalahnya tak sesederhana itu. Ada banyak hati yang harus dijaga. Termasuk milik Aubrey, putri semata wayangnya.

***

Ra sungguh terkejut ketika pagi itu Aryo muncul di pintu apartemennya. Tepat ketika Ra mengemasi kopernya, bersiap menuju stasiun. Mengingatkan Ra pada masa-masa dulu, betapa Aryo selalu ada untuknya.

Dan di sinilah mereka sekarang. Stasiun Rotterdam Centraal. 10 menit teramat singkat untuk sebuah perpisahan yang entah kapan ujungnya.

“Janji ya Ra, kamu akan selalu jadi perempuan kuat, seperti Ra yang kukenal...,” ulang Aryo.

Mata Ra menghangat. Tempias gerimis semakin deras, membasahi jaket tebal dan boots mereka.

Meski t’lah jauh ke mana
kau coba ‘tuk sembunyi
Satu saat nanti akan kembali... jua
oleh cinta



***




*(Tulisan ini saya ikutkan di audisi Project tentang Kita - Flash Fiction, 2014)


Saya suka genre flash fiction (semacam cerita pendek -- tapi lebih pendek dari cerpen) yang bercirikan twist-ending, atau bisa juga open-ending alias ending yang menggantung.

Nah, saya biasanya memang suka ngasih ending yg nggantung itu.. hehe. Jadi ada rasa penasaran-penasarannya :D

Btw project ini adalah semacam tribute to KLa Project. Saya ngambil inspirasi dari lagu KLa yang 'Meski Tlah Jauh'.
Walopun saya sebenernya ngefansnya ke Sheila on 7 sih.. hihi.

Ide cerita dari ngarang saja. Tapi settingnya terus terang terinspirasi dari suasana ketika sempat tinggal di NL.

Misal saat hadir di acara cultural night di Delft.. dan terutama di stasiun Rotterdam pas nganterin rombongan teman yang akan kembali ke Indonesia setelah selesai shortcourse. Plus ketika kami mau back for good.. Waktu itu kami rame-rame geret koper besar-besar dari apartemen ke halte tram, trus dari halte ke stasiun, hehe. Dan cuacanya mendung gerimis..

Saat itu saya sudah membayangkan, rasanya bagus dijadikan setting cerita.
Stasiun, gerimis, dan farewell.. such a nice combination for a love story, no? <3

Setelah kembali di Indo beberapa lama, baru cerita ini saya tulis. Kebetulan pas ada event project itu tadi. Ditambah beberapa curhatan teman tentang mantan dan CLBK.. hehe. Dengan modifikasi sana-sini, jadilah cerita ini :D

Hope everyone enjoying it, ya.. :)
 

Monday, September 11, 2017

tentang pedagang keliling

habis nganter anak sekolah.. dari jauh melihat bapak-bapak yang jalan kaki sambil manggul tangga bambu. pas udah dekat ternyata tangganya lebih dari satu.

saya hentikan motor mendekati dan bertanya, "mau dijual pak, tangganya?"

"iya mbak."
si bapak menjawab sambil menurunkan tangga-tangganya.


"berapaan pak, harganya?"

"yang kecil 100ribu. yang besar 125ribu, mbak.."

sebenernya pengen nglarisi dagangan si bapak. biar kalo pas butuh 'pènèkan' alias panjat-memanjat gak usah pinjem sama tetangga.
tapi mikir gimana bawanya ya.. rumah masih jauh je.


akhirnya gak jadi beli. cuma nanya aja trus pamit sambil bilang, "semoga laris dan habis ya pak, tangganya.."
*dalam hati mbatin: maaf pak, cuma bisa doain..


lain waktu saya ketemu sama ibu-ibu penjual bantal-guling di sebuah masjid. beliau lagi mau meneruskan jalan keliling menjajakan dagangannya setelah solat. banyak dan tinggi sekali susunan bantal guling yang digendongnya.

seperti biasa saya tanya-tanya. cerita si ibu, beliau jauh-jauh datang dari pemalang ke semarang untuk jualan.
akhirnya saya beli 1 bantal, 25rb. warna ijo gambar hello kitty.



kadang suka kasian kalo nemu penjual-penjual keliling yang bawa barang besar-berat gitu.. masyaAllah ya, ikhtiar mereka untuk mencari nafkah.

pernah juga pas nganter anak sekolah papasan sama bapak-bapak yg jalan kaki keliling ngangkut 'gedhèk' (anyaman bambu).. keliatan berat. pulangnya ketemu lagi, kali ini si bapak lagi istirahat duduk di bawah pohon.

saya brenti dari motor dan bertanya ttg dagangannya itu. beliau bilang harganya 200rb. katanya mau jalan ke daerah 'sigar bencah' yg lagi ada proyek, mungkin ada yg mau beli.
wah, padahal masih lumayan jauh daerah itu. mungkin 2-3 kilometeran.. dan jalannya menanjak. (sayang si bapak ini kok merokok.. jadi agak berkurang deh respeknya, hehe )
lagi-lagi saya cuma bisa mendoakan, "semoga segera laku ya pak, gedhèknya.."
hiks :(


adakah rekan yang punya pengalaman mirip..? ingin 'nglarisi' dagangan pedagang keliling, tapi bingung caranya gimana..

kalo yang dijual bantal, keset, sapu, dll yang gampang dibawa sih nggak masalah. nah kalo yg jualannya berat-susah dibawa seperti tangga bambu dan gedhèk tadi, kira-kira solusinya gimana?

monggo sharingnya..

*ilustrasi adalah foto bantal hello kitty yang saya beli dari ibu pemalang. kainnya tipis dan bantalnya keras. tapi berharga sbg pengingat, bahwa saya harus banyak-banyak bersyukur..

 

Tuesday, June 6, 2017

Jika (Lahan) Rumah Menghadap Barat



Ceritanya lagi naksir sebidang tanah kavling nggak jauh dari rumah. Sebetulnya lokasi oke.. Terletak di dalam kompleks perumahan yang sudah ‘jadi’ (fasum dan fasos sudah ada, sudah ramai penghuni juga) dan aman (ada satpamnya). Luasan sesuai kebutuhan dan harga sesuai budget. Malahan agak di bawah pasaran karena pemiliknya sedang BU. Iklannya pun dari tangan pertama alias langsung pemiliknya, yang ternyata istrinya adalah teman dari istri teman sekantor saya (hihi, mbulet ya). Jadi insyaAllah aman lah.

Sayang sekali.. kavlingnya menghadap barat. 

ini dia kavlingnya
Iya, memang jadi ganjalan soal arah menghadap kavling yang kebetulan kok ya ke barat. Bayangan saya kalo rumah hadap barat tuh kurang menguntungkan. Tidak kena sinar matahari pagi, dan hanya dapat sinar matahari siang-sore yang lebih menyengat. Agak kurang nyaman sepertinya.

(Catatan: rumah saya yang sekarang menghadap selatan. Tidak terpapar matahari langsung, tapi dari pagi-sore tetap dapat matahari dari arah samping).

Jadilah saya browsing-browsing soal rumah menghadap barat. Lumayan banyak juga artikel yang menyebutkan kekurangan rumah menghadap barat. Problem utamanya ya karena kebagian sinar matahari dari siang-sore yang relatif lebih panas. Dan panasnya ini tidak langsung lenyap begitu saja di malam hari, karena akan ‘tersimpan’ selama 6-8 jam kemudian di dinding dan langit-langit rumah. Waduh..

Galau deh.. haha. Padahal jarang-jarang di Tembalang dapat kavling ‘jadi’ dengan harga segitu.

Sebetulnya bukannya nggak tahu jika problem panas matahari siang-sore itu bisa diatasi, atau paling tidak diminimalisir. Ada sih, beberapa teori yang sudah kebayang. Seperti menanam pohon/tanaman rambat di depan rumah, pasang penghalang semacam tirai bambu di teras atau depan pintu dan jendela, pasang kanopi sekalian untuk carport, trus juga kamar/tempat istirahat jangan ditaruh di bagian depan.

Dari browsing tadi dapat beberapa info tambahan untuk mensiasati rumah yang menghadap barat agar tidak terlalu panas. Ini dia beberapa di antaranya:

  • Meminimalkan bukaan pada fasad rumah
  • Membuat semacam secondary skin di fasad rumah untuk ‘menyaring’ sinar matahari (menambah dinding plesteran, kisi-kisi, atau tanaman rambat)
  • Menggunakan warna cat yang terang dan hindari wara gelap yang lebih menyerap panas
  • Mengubah fungsi ruang dan memainkan lay-out (bagian barat dialokasikan untuk ruang yang tidak dipakai lama dan untuk service area)
  • Membangun teras penetralisir udara (diisi dengan tanaman-tanaman hias berdaun rimbun)
  • Menggunakan kaca film pada jendela

Hmm.. lumayan lah, bikin galau agak berkurang, hehe. Tapi masih penasaran, gimana sih rasanya tinggal di rumah yang menghadap barat. Beneran panas dan nggak nyaman? Bagaimana mensiasatinya? Rasanya lebih afdol mendengar langsung dari yang sudah merasakan sendiri, daripada sekedar teori.

Saya pun melempar pertanyaan ke beberapa WA grup yang isinya teman-teman kuliah.

Dan.. ternyata komennya kok bikin tambah galau yaa.. haha. Lebih banyak cons daripada pros. Rata-rata berpendapat ‘negatif’ dan menyarankan kalau bisa jangan ambil rumah menghadap barat, heuheu. Seperti 2 komen di bawah ini, misalnya:

“Kalo boci bangun-bangun kemringeeett.”

“Walaupun ada pohon tetap panas Fi, wong matahari terbenam ke arah kita.”

Nah loo.. galau lagi kan, wkwkwk.

Untungnya ada beberapa komen dan sharing dari pemilik rumah hadap barat yang lumayan ‘adem’ dan menambah referensi tips n trick mensiasatinya. Ini dia: 

“Depan rumah tanami pohon dan taruh gentong air. Pakai siri-sirip penghalang. Lantai atas dibuat model jembatan antar kamar /ada void.” (Pak Tung)
halaman rumah Pak Tung. gentongnya keliatan nggak? :D
“Mengganti posisi fasad ke utara, dan menempatkan area ‘dingin’ seperti kamar mandi dan laundry di sisi barat.” (Deary)

“Lantai barat untuk service area dengan bukaan selebar mungkin. Lantai atas kamar tidur, dinding yang madep barat luar dibuat pasangan satu bata atau tebal 30cm. Bukaan selebar mungkin di dinding yang lain. Jangan lupa pakai pohon peneduh.” (Mas Deva)

“Nanam pohon peneduh yang daunnya menjuntai sampai bawah.” (Pak Tahyanto)

“(Di kamar) nggak ada jendela di sisi barat, jendela ditempatkan di sisi utara.” (Jeng Nurul Awuy)

“Main di barrier, dengan pohon/tanaman rambat, atau roster. Canopy pakai  pergola yang di atasnya tanaman rambat -- jangan pakai polycarbonate or galvalum. Main cross ventilation. Sirkulasi ruangan yang bagus, biar nggak sumuk.” (Oom Adit)

ilustrasi sirkulasi udara ala Oom Adit

“Pasang tirai eksterior. Plafon dibuat tinggi.” (Jeng Edi Yuni)

“Pasang tirai bambu / kerai.” (Mas Hiddan) 

“Harus ada pohon depan rumah dan di belakang ada ruang terbuka.” (Kang Bibin)

tampak depan rumah Kang Bibin

“Tanam pohon ketapang kencana. Kalo udah besar rantingnya melebar, bikin teduh.” (Kang Acep)

rumah Kang Acep dengan pohon ketapang kencananya
“Siasati tata ruang: Ruang tidur, ruang keluarga, ruang kumpul-kumpul, taruh di bagian timur / belakang rumah; Bukaan-bukaan besar taruh di belakang dan hadap timur; Halaman yang (lebih) luas taruh di belakang.” (Juragan Febry)

bukaan lebar di bagian belakang (salah satu) rumah Juragan Febry

Baidewei, di saat browsing saya juga nemu artikel yang menyampaikan bahwa sebaiknya rumah seorang muslim diposisikan menghadap kiblat (arah ‘barat’ kalau di Indonesia). Wallahu alam..

Apapun itu, mengutip ‘petuah’ Juragan Febry -- yang kadang-kadang berubah wujud sebagai Ustadz: “Allah menciptakan  arah timur, selatan, barat, utara. Semua baik."

Hmm.. baiklah.. sepertinya saya masih harus melanjutkan solat istiharoh, biar benar-benar mantap dan nggak galau :D



Referensi:

Thursday, December 15, 2016

Sebuah Email di Sore Itu



Dua hari lalu menjelang magrib. Saya tiba di rumah dengan kuyup karena hujan. Dingin, tentu saja. Plus agak bete karena sudah beberapa hari pulang kantor selalu basah kehujanan (ngaku :D).

Tapi notifikasi email yang masuk di gadget sesaat kemudian, seketika mengubah suasana hati. Ini copy-paste isi emailnya: 

Assalamualikum salam kenal kakak .. aku kenal kakak dari buku jilbab traveler. Kakak mau kah kakak berbagi cerita tentang luar negeri?  aku dari indonesia loh kak.. pengen kuliah di luar negeri. Sekedar berkenalan boleh kan?? :-)

Ternyata masih ada yang baca – dan suka – tulisan saya. Dan ternyata saya sudah lama absen menulis, hiks.

Buku The Jilbab Traveler yang disebut di email itu adalah sebuah antologi yang dieditori oleh Mbak Asma Nadia. Kumpulan tulisan yang berkisah tentang perjalanan melanglang buana dan pengalaman tinggal di berbagai belahan bumi para kontributornya. Ini sebenarnya adalah buku lama, kalau tidak salah terbit tahun 2012.


Buku 'The Jilbab Traveler'

Jadi ceritanya dulu Mbak Asma Nadia pernah mengadakan audisi naskah untuk antologi The Jilbab Traveler. Alhamdulillah dan surprised juga ketika mendapat kabar bahwa naskah yang saya kirimkan lolos. Di buku tersebut tulisan saya berkisah tentang pengalaman selama backpacking ke Italia (Milan, Cinque Terre, Pisa, Venice).   

Masa-masa itu saya masih lumayan produktif menulis. Pengalaman jalan-jalan di Italia sempat juga saya tulis dan kirimkan ke majalah Kereta Api. Kali ini tulisan seputar kereta dan stasiun di sana. Rasanya senang ketika dikabari seorang kawan yang kebetulan 'menemukan' majalahnya dan membaca tulisan itu ketika sedang naik kereta.

Kembali ke email tadi. Saya jadi seperti diingatkan untuk menulis lagi. Dan.. traveling lagi, sepertinya ^_^